Pengumuman

RAT KOKAMI, Kamis 1 Juni 2017 jam 09.00 WIB di Sanggar Prativi Jakarta

Berapa Harga Waktumu?

Moderator: Martin T Teiseran

Berapa Harga Waktumu?

Postoleh geerje » 08 Mei 2010, 11:22

Adi, Pimpinan sebuah perusahaan di Jkt,
tiba di rumahnya jam 9 malam.

Tak seperti biasanya anaknya, Ana, umur 9 th membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, blum tidur?" sapa Adi

"Aku nunggu Papa pulang,
sbab aku mau tanya,
Berapa sih gaji Papa?"

"Kamu hitung ya..
Tiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam & dibayar 400.000,
tiap bulan rata-rata 22 hari kerja,
kadang Sabtu masih lembur.
Berapa gaji Papa hayo?"

"Kalo 1 hari Papa dibayar 400.000 u/ 10 jam,
berarti 1 jam Papa digaji 40.000 dong"

"Wah, pinter kamu.
Sekarang cuci kaki, terus tidur ya.."

"Papa, aku boleh pinjam 5.000 gak?"

"Sudah, gak usah macama-macam..
Buat apa minta uang malam-malam gini? Tidurlah.."

"Tapi Papa…"

"Papa bilang tidur!"

Ana pun lari menuju kamarnya sedih.

Usai mandi,
Adi menyesali kekesalannya,
menengok Ana di kamar tidurnya sedang terisak sambil memegang 15.000

Sambil mengelus kepala Ana, Adi berkata,
"Maafin Papa ya..
Papa sayang sama Ana..
Tapi buat apa sih minta uang sekarang?

"Papa, aku gak minta uang.
Aku hanya pinjam,
nanti aku kembalikan kalo sudah menabung lagi dari uang jajan seminggu ini."

"lya, iya, tapi buat apa?"

"Aku nunggu Papa dari jam 8 mau ajak Papa main ular tangga 30 menit aja.
Mama sering bilang waktu Papa itu amat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku hanya ada 15.000...
Karna Papa 1 jam dibayar 40.000,
maka setengah jam aku harus ganti 20.000..
Duit tabunganku kurang 5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Ana polos

Adi pun terdiam.
Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dgn haru.

Dia baru menyadari,
ternyata limpahan harta yg dia berikan selama ini,
tak cukup u/ "membeli" kebahagiaan anaknya.

PESAN MORAL
"Bagi dunia kau hanya seseorang,
tapi bagi seseorang kau adalah DUNIA-nya"
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Share On

Bagi di Facebook Facebook Bagi di Twitter Twitter

Re: Berapa Harga Waktumu?

Postoleh geerje » 14 Mei 2010, 10:23

Copas dari milis
----------------------
Suatu hari teman saya berulang tahun.
"Yuk, daripada kita ke club gak jelas, minum-minuman gak jelas, kita kepanti jompo saja. Bawa makan siang ke sana , kita makan sama mereka ?"
Singkat cerita mereka ke suatu panti jompo dekat kota .Di sana , orang-orang tua terlihat sangat senang saat tau teman-teman saya mau menjenguk mereka. Mereka terlihat gembira, mereka cerita tak habis-habisnya. Mereka cerita tentang masa lalu mereka, latar belakang mereka, sejarah mereka bisa "nyangkut" di panti jompo.
Ada cerita dimana istri anaknya gak suka mertua mereka hidup bersama mereka, jadi si anak terpaksa menitipkan orang tuanya di panti jompo.Seorang kakek juga tinggal di sana setelah istrinya meninggal, dan dia tidak punya anak, keponakan-keponakan nya juga tidak ada yang mau menampung dia. Ada cerita, tentang si kakek tua yang sudah susah payah menguliahkan anaknya di luar negeri tapi dia tak kembali ke rumah orang tuanya, dia tak pernah mengunjungi ayahnya, bahkan mengirim uang sekalipun tak pernah. 

 Teman-teman saya sangat terharu mendengar kisah mereka. Pun dia sangat tercengang saat si kakek tua menasehatkan dia:
"kalau sudah beristri dan punya anak nanti, jangan memberi semua uang yang kita miliki ke anak-anak kita. Kita juga harus simpan untuk diri sendiri, buat masatua, kalau anak-anak ternyata gak pinter sama kita." katanya. S

Sepanjang perjalanan pulang naik mobil, tak satupun yang berbicara..
"Hei aku hari ini ulang tahun. Koq malah pada bikin sedih gini?"
"Ya, terharu banget. Aku jadi merasa bersalah deh. Bagaimanapun aku sering anggap orang tuaku gak penting."
"Iya nih, kamu pake ngajak kita-kita ke panti jompo. Bikin kita feel guilty gini?"

Mungkin dari kisah si kakek tua tadi, kita geram dengan si anak nggak tau diuntung itu. Anak durhaka. Nggak pinter sama orangtua. Tapi taukah kita, kenapa banyak anak-anak seperti itu? Apa benar mereka nggak peduli dengan orang tua mereka? Apa jangan-jangan kita sebagai orang tua gak peduli sama anak-anak kita? Ada orang tua yang seharian sibuk kerja, anak bangun kita sudah gak ada dirumah, mereka menangis sampai lelah dan tertidur lagi. Ada juga yang gak peduli dengan sekolah mereka. Mereka gak pernah menanyakan,
"Gimana sekolahnya hari ini? Diajarin apa aja?"
Mereka taunya hanya bayar uang sekolah dan tanda tangan hasil ulangan.   Ambil raport? Ah, biarin supir atau nenek aja, yang penting kan ada perwakilan. Tahukah kita? Waktu anak kita gak panjang. Kita hanya memiliki 12 tahun bersama mereka. Sisanya, mereka milik teman-teman mereka, pacar mereka, pekerjaan mereka, istri/suami mereka, dan anak-anak mereka sendiri. Mungkin saat ini kita bosan dengan tangisan mereka di malam hari. Kita bosan memonitor mereka yang baru belajar jalan. Jalan kesini, jalan kesitu, ambil barang ini, diletakkan disitu, buang barang seenaknya ketong sampah, corat coret dokumen penting. Sobek-sobek majalah di sofa. Lari ke tetangga, naik-naik tangga. Menelan benda gak jelas. Kita mungkin bingung karena punya si kecil. Ada jadwal pengajian, bingung mau ninggalin anak sama siapa. Diajak teman ikut KKR dan seminar?
"Wah.. Ntar si kecil siapa yang ngurus?"
Jangankan seminar di luar kota , di dalam kota saja sudah kebingungan. Tiap hari minta dibacain dongeng yang itu-itu aja. Belum kalau ke swalayan, minta permen lah, bola lah, minta naik panda-pandaan di timezone. Ikut-ikutan ambil barang, sampai dirumah,
"Lah? Tadi perasaan gak ambil barang ini di supermarket? Oalah? si kecil. Dasar!"
Bosen,nungguin mereka mengerjakan PR, Kalau gak ditungguin, pasti ngelamun, gambar-gambar mobil, robot, nyuri-nyuri pandang nonton TV. Bosen menyocokan catatan mereka dengan catatan teman-teman yang lain. Bosen Tanya-jawab dengan mereka sebelum ulangan. Bosen nyuruh mereka ngeluarin botol minum dari tas biar dicuci sama sibibi. Kalau bukan Anda yang mengeluarkan malamnya, pasti besok pagi buru-buru.Jemputan sudah datang, anak Anda belum siap. Kapan mereka mau nurut? Disuruh makan, nanti. Disuruh mandi, nanti. Disuruh matikan TV dan tidur, "sebentar lagi ma!" Disuruh ngejadwal malam hari, "besok pagi aja ma!" Dikasih tau jangan makan chiki nanti batuk, eh tetep saja jajan chiki di sekolah. Kalau sudah batuk, mau gak mau Anda bawa ke dokter dan beli obat. Minimal 100.000 habis. Padahal chiki cuman 2000. Belum kalau sampai radang, Anda sendiri harus jaga dia di rumah.         

Mungkin kita semua sedang menjalani hal-hal ini. Kita bosan. Pengen rasanya anak cepat besar, bisa bantuin jaga toko, bisa ditinggal sendiri di rumah. Bisa antarkan makanan ke rumah tetangga, bisa naik kendaraan sendiri, gak perlu diantar-jemput lagi. Tapi sadarkah kita? Kita kelak akan merindukan saat-saat mereka masih kecil. Saat orang-orang di pesta undangan mengatakan,
"ih..lucu banget anaknya..."
Saat Anda lelah dan menyuruh mereka menginjak-injak punggung Anda. Saat mereka tampil di drama sekolah dan dengan bangga Anda berkata, "Eh,yang jadi Abudullah itu anak saya." Saat mereka mengenakan busana daerah di Hari Kartini. Saat mereka nangis di tengah malam karena si kecil haus dan meminta dibuatin susu oleh Ibu / Ayahnya. Saat mertua Anda teralu memanjakan si kecil, sampai Anda jengkel sendiri dengan cara mereka mendidik anak Anda. Anda akan merindukan itu semua.

Hanya 12 tahun! Sisanya mereka milik orang lain.12 tahun bahkan nggak lebih dari 1/5 hidup mereka. Nikmati semua ini. Beri perhatian yang luas terhadap mereka. Tentunya kita juga harus memberi teladan kepada mereka. Mereka akan merekam semua perbuatan kita. Cara-cara kita berbicara dengan orang tua kita yang sudah mulai pikun,cara kita mengurus orang tua kita di rumah. Cara kita mengajak orang tua kita check up di lab. Mereka juga merekam cara kita meneriakan ucapan kita ke orang tua kita yang mulai kurang pendengarannya, cara kita bersungut-sungut di belakang orang tua kita yang jadi cerewet luar biasa setelah sembuh dari stroke. Cara kita berkata: "Iya Maaaaaaaaaaaa? " (dengan nada yang, ah tentu saja Anda sendiri tau bagaimana biasanya kita mengucapkan kalimat ini saat berusaha menahan kekesalan kita!) 
Kita gak tahu kelak, apakah anak-anak kita akan pinter dengan kita atau nggak. Memang, tentu kita selalu mendoakan dia supaya jadi orang, bukan jadi anak durhaka.Yang bisa kita lakukan sekarang adalah dengan tidak menjadi orang tua yang durhaka. Dan tentu saja dengan memberi teladan kepada mereka, bagaimana caranya memperlakukan orang tua. Dengan mempraktekkannya kepada orang tua kita sendiri! Yang pasti, hukum tabur tuai juga berlaku di area ini!‬
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang


Kembali ke Motivasi dan Kata Bijak

Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 1 tamu

cron