Pengumuman

RAT KOKAMI, Kamis 1 Juni 2017 jam 09.00 WIB di Sanggar Prativi Jakarta

Diggest Diskusi di Millis

Diskusi keseluruhan Alumni

Moderator: Moderator

Diggest Diskusi di Millis

Postoleh geerje » 15 Mar 2011, 18:17

Saya bermaksud mendokumentasikan diskusi hangat yang berlangsung di Millist
===================================================================
Mas Sonny,

Diskusi di mailist memang bermanfaat, tapi kalau diskusi langsung, face to face jauh lebih intensif.
Lha mbok Mas Sonny, mengundang teman teman alumni, yang dirasa bagi team Mas Sonny tepat. Tidak perlu mengundang secara umum, terlalu banyak orang malah semrawut. 5-10 orang diajak diskusi yang intensif. Mau bahas apa saja silahkan.
Lain waktu 5-10 orang lagi, bahas masalah yang sama juga gak apa apa, orangnya sebagian ada yang sama juga gak masalah.
Lain waktu 5-10 orang lagi, begitu seterusnya, bisa menjadi jadwal bulanan.

Satu hal, saya sangat tertarik dengan istilah kenapa harus berkompetisi kalau bisa berkolaborasi.
Memang semua alumni ingin sukses dalam bidang mereka masing masing. Semua pingin untung.
Kalaupun ada kolaborasi, artinya Amlik dan alumni yang bersangkutan kedua duanya harus untung.
"Saling menguntungkan" dan "kejujuran" adalah perekat yang hebat dalam berkolaborasi.

So, Mas Sonny sebagai orang Almik, harus mempromosikan apa keuntungannya berkolaborasi dengan Almik.
Pertemuan2 yang saya maksud diatas, salah satunya untuk ajang Almik berpromosi pada Alumni.
Rasa rasanya belum cukup menarik bagi alumni untuk berkolaborasi dengan Almik kalau hanya diajak dengan kata2 saja. Beda kalau ditunjukkan dangan data dan fakta "Ini lho keuntunganmu (para Alumni) kalau Almik dan Alumni berkolaborasi. Kalau Mas Sonny bisa meyakinkan Alumni hal hal yang menguntungkan itu, malah para alumni yang berbondong bondong ingin berkolaborasi dengan Almik.
Mas Sonny Good Luck, GBU.

Salam kolaborasi

jaka hw
Atmi22

==========================================
Wah setubuh kui.
Ide yang cemerlang.
Kami terbuka untuk diskusi face to face bareng2.
Yang sebenarnya hal itu sdh kami lakukan di gedung KOKAMI di gading serpong yg juga di moderatori dan di support Rm Moko, yang sampai skrg ternyata uuuuangel tenan ngumpulke alumni.
Dan kalo teman2 tertarik pasti ada banyak ide di situ. Not just small peanut lho!!!
Mungkin salah satu bisnis lg yg menguntungkan skrg baru di garap yaitu adanya ACP (ATMI PANEL CELL) apa itu ? Monggo mas Yohanes Agung yg nerangke.
Itu salah satu hasil pertemuan bulanan lho. Aku juga sudah undang teman 2 hadir termasuk angkatan 22 tapi sing teko ming aku dan fraend (teko sekali)
Piye jal ????

Yuk ngumpul lagi.....and. Discuss tenenan

Salam Mikael Berkah Dalem

Sonny Wijaya
ATMI 22
============================================================
Mas Sony dan kawan2 semua,

Untuk bergabung dg ATMI...mungkin timingnya belum tepat (sudah kliwat)...tapi suatu hari nanti, saya tertarik juga untuk bergabung dg ATMI, tapi belum tahu kapan waktunya akan datang.
Lha mbok ya jgn dibilang untuk jadi pasukan susah...kl memang hanya untuk diajak Susah...siapa yg bakal mau gabung dg ATMI???!!!

Ajakan untuk berkumpul alumni ATMI (angkatan saya-juga alumni mikael dimana saya tinggal)...cukup susah!!!
Kl misalnya kita ajak kumpul, pertanyaan yg muncul pertama adalah "Agendane apa?"
Terus terang kl sudah seperti itu saya jd pusing jawabnya.
Kenapa kita tidak bisa mengalir saja, sekedar kumpul dg teman, melepas kangen, nyek2an...apakah harus dg agenda yg formal?
Ataukah alumni ATMI (Mikael) begitu sibuk sehingga tdk punya waktu utk teman lama?
Sering kita tidak sadar bahwa ide2 untuk kerja sama itu hanya bisa muncul kl ada keakraban, hubungan baik yg terjalin yg akhirnya menumbuhkan rasa saling percaya.
Tanpa itu semua, saya kira yg ada hanyalah hubungan bisnis "tanpa hati" dimana ujung2nya adalah brakot2an!!

Terus terang hubungan antar alumni di ATMI (terutama yg msh mengejar karier) saya rasa kurang "mesra", itu yg saya rasakan, dan saya yakin pengalaman rekan yg lain tentu berbeda!
Kl yg saya rasakan itu benar, pertanyaan saya adalah, kenapa hal itu bisa terjadi di alumni sekolah Jesuit?
Saya pernah menyinggung hal ini sekitar 2 tahun yg lalu, beberapa saat sebelum reuni ATMI tahun 2008. Pola pendidikan di ATMI kadang kurang menanamkan unsur "rasa".
Dalam keseharian kita di ATMI selama tiga tahun (mgkn ada yg kurang) kita sering dihadapkan pada saat2 dimana kita dikondisikan untuk bersaing dg kawan kita.
Mgkn hal itu terbawa (atau bahkan makin parah) saat kita masuk dunia kerja.

Tulisan saya di atas, mungkin tidak berlaku bagi bapak2/mas2 yg sudah mapan dlm kehidupannya, juga menjelang masa pensiun, atau bahkan sudah pensiun. Karena secara naluriah, yg menjelang atau sudah pensiun akan berusaha mencari teman (baru ataupun lama) untuk mengisi hari2 berikutnya...biar nggak kesepian.

Salam,
dono/ATMI 28
=========================================================
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Share On

Bagi di Facebook Facebook Bagi di Twitter Twitter

Re: Diggest Diskusi di Millis

Postoleh geerje » 15 Mar 2011, 18:19

Teman2 ATMI semua,

Atas permintaan penulis, yg kebetulan bukan member atmi yahoo group, saya teruskan tulisannya.
Hal ini lebih menjelaskan lebih detail, kenapa sikap alumni atmi lebih menonjol individualisme nya.
Sekali lagi, ini bukan justifikasi, ini adalah sebuah diskusi, yg mungkin saja cara pandang teman saya (ataupun saya juga) ada hal yg kurang pas di ATMI (institusi maupun siswa didiknya).
Akan tetapi kl yg kami pikirkan itu adalah benar, saya pikir tidak ada salahnya kl kita sedikit berubah.
Silahkan menikmati tulisan email di bawah ini.

salam,
dono/28 on behalf Agustinus/28...juga
Nyoh Don, mbuh bener mbuh salah, silakan disikapi lan dikritik


Langkah awal sukses kuliah di ATMI : pengenalan diri, motivasi dalam jangkauan perolehan masa depan.

Setiap mahasiswa baru akan selalu dihadapkan pada ketakutan akan sanksi DO yang sebenarnya masih terlalu samar untuk dibicarakan oleh mahasiswa baru. Dalam artian mereka harus tahu 100% mengenai system yang berlaku dan kriteria yang ada untuk "berhasil" memperoleh sanksi tersebut. Akan sangat membantu jika kita tahu jalan, rintangan, godaan, clues maupun shortcut ketika kita akan memulai suatu perjalanan. Di lain sisi, seharus nya lah kita tahu akan motivasi kita kenapa kita mau menempuh perjalanan tersebut. Apa yang kita harapkan di ujung jalan sana ? Apa yang kita bayangkan ketika kita sampai di ujung sana ? Apa yang akan kita lakukan ketika kedua kaki kita sudah melewati rintangan terakhir ?
Jadi ada 2 main factors di sini yaitu internal dan external. Saya akan coba share lebih ke factor internal di mana kita bisa mencoba membaca diri kita sendiri terkait dengan jalan yang mungkin tidak sengaja maupun sudah terencana akan kita lalui.

Pertanyaan awal : Mengapa saya masuk ATMI ?

Kemungkinan pertama dan (mungkin) yang dominan : Karena ingin cepat kerja, membantu orang tua, dsb yang saya bisa rangkum menjadi factor economy.
Meskipun ini merupakan factor dominan dalam seorang mahasiswa ( yang mempunyai motivasi ini ), seharusnya motivasi ini harus langsung dibuang jauh jauh ketika memang kita sudah menjadi mahasiswa ATMI. Kita harus mengganti motivasi tersebut dengan sebuah motivasi baru yang lebih tangible, lebih menjawab pada kondisi atau jalan di depan mata kita. Saya tidak akan membahas lebih lanjut dalam hal ini.

Kemungkinan kedua : Karena merasa tertarik untuk mendalami bidang permesinan.
Adalah sah sah saja untuk mempunyai pemikiran tersebut. Dikarenakan faktor lingkungan maupun keluarga, seseorang bisa merasa tertarik untuk mendalami permesinan. Adapun yang menjadi pertanyaan adalah mesin apa yang dimaksud ? Mungkin seseorang tertarik karena pernah atau sering melihat simulasi robot, ataupun teknologi tingkat atas yang kadang melenceng dari program pendidikan di ATMI. Perlu saya garis bawahi, harus diperhatikan dan tahu 100% ada yang akan didalami di ATMI. Mahasiswa kebanyakan akan kaget ketika mengidam2kan membuat rancangan mesin tapi di minggu pertama justru harus kerja bangku yang secara kasat mata tidak ada hubungan nya dengan cita cita nya.

Kemungkinan ketiga : Karena merasa berbakat di bidang permesinan.
Ini adalah factor yang sampai sekarang belum pernah bisa saya bayangkan secara nyata. Bagaimana mungkin orang bisa merasa berbakat membubut ketika belum pernah pegang mesin tersebut ? Saya adalah termasuk kelompok skeptis untuk masalah bakat di bidang permesinan. Belum pernah seorang pengemis menyatakan bahwa dia memang bakat jadi pengemis. Pasti ada factor lain yang bermain di sini. Mungkin masuk ke kemungkinan kedua yaitu ketertarikan. Bakat adalah hal yang sering didengungkan ketika seseorang DO, dimana merasa tidak bakat maupun di cap tidak berbakat di bidang teknis. Ini salah, DO tidak ada kaitan nya dengan bakat, kegagalan tidak berkaitan dengan talenta. Coba lihat banyak alumni yang secara fisik tidak disangka kalau bisa bertahan ngikir 8 jam sehari ? Toh mereka dulu nya tidak DO. Kalaupun memang pada akhirnya bakat yang disalahkan, mari kita bersama sama meninjau ulang proses perekrutan mahasiswa ATMI di mana seharusnya ( katanya ) adalah ajang penemuan bakat.

Setelah melihat beberapa kemungkinan motivasi " sebelum masuk ATMI " di atas dan mungkin beberapa factor lain yang lebih personal, mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk mem-booster performance kita di ATMI.
Perlu digaris bawahi bahwa ada motivasi sebelum masuk ATMI dan seharusnya motivasi setelah kuliah di ATMI. Hal ini berkaitan dengan sebelum dan sesudah mengetahui kondisi dan pola pendidikan di ATMI.
Dari semua factor yang ada, saya hanya bisa mendapat 2 factor yang sangat berperan, yaitu ketertarikan ( interest ) dan ( hanya ) keinginan untuk bertahan ( will to survive ). Factor will to survive banyak ditemui ketika sudah terlanjur masuk ATMI, pokok nya bagaimana caranya agar tidak DO dan lulus. So, kita perketat lagi bahwa hanya factor interest yang kira nya menang benar benar sehat dan layak untuk kita pupuk.
Yang ingin saya tekan kan di sini adalah bagaimana kita membuat diri kita merasa interest dengan apa yang kita lakukan. Banyak hal yang mungkin tiap individu bisa lakukan. Dan akan lebih membantu jika banyak hal yang bisa dilakukan berkelompok. Mulai dari membuat work instruction secara berkelompok, bikin PR bersama, membahas mesin bubut A itu kok susah masukkan ukuran ISO, membahas bagaimana membuat permukaan N6 dengan kikir yang tumpul, dsb. Sejauh mungkin tanamkan ketertarikan itu dan sebisa mungkin libatkan teman dan kelompok. Interest itu akan terpupuk lebih baik dengan adanya peran serta kelompok.
Mungkin salah satu dampak sistemik dari pendidikan di ATMI adalah egoisme yang tinggi, tingkat persaingan individu yang tinggi tapi tidak kentara. Ini yang menghambat proses kekompakan kelompok tersebut. Yang merasa tahu adan tetap merahasiakan resep ngikir cepat nya, akan tetap merahasiakan cara menggerinda flat pahat bubut, dsb.

Sedikit Out of Topic : pernahkah melihat percentage DO berdasar nama orang ? Mungkin ini berpengaruh juga. Kenapa ? ketika nama saya berawal dengan huruf A, otomatis saya akan melangsungkan pendidikan ( terutama di tingkat 1 ) secara urut, yaitu mulai dari kerja bangku, kemudian bubut, kemudian milling, dsb. Kalau memang itu dibuat sistematik berupa pengenalan dasar teknik yang berkait, alangkah beruntung nya saya yang mempunyai nama A di depan. Secara teori, kalau ngikir adalah dasar dari segala dasar teknik, mengapa orang dengan nama K di depan harus mulai belajar mesin bubut sebelum belajar ngikir ?

Pertanyaan kedua : peran serta ATMI dalam melanggengkan keinginan saya agar tidak DO ?

Ini sedikit berangan angan. Memang seharusnya ATMI ikut berperan memupuk minat dan interest setiap mahasiswa apapun tujuan hidup dan motivasi mereka. Secara moral, ATMI seharusnya ada bukan sebagai penghukum, ada bukan sebagai penjatuh DO. Tapi ada untuk menolong mahasiswa yang butuh perhatian, memberikan counseling, mencoba sebisa mungkin agar tingkat percentage DO menjadi rendah tanpa mengurangi standard yang ada. Harus dibalik opini nya bahwa semakin banyak mahasiswa DO, justru berarti semakin gagal pola pendidikan di ATMI. Tampak sulit terlaksana di Indonesia dibanding dengan di negara barat sana. Karena factor economy, orang masuk ATMI. Dan karena itu, ATMI harus bertanggung jawab untuk memotivasi mereka yang mungkin belum tentu ada minat di bidang teknik.
Setiap mahasiswa akan diberi report per semester, apakah ini cukup untuk "memperingatkan" mahasiswa yang beresiko DO ? mungkinkan ditambah lagi per tengah semester untuk mahasiswa bisa lebih "terperingatkan". Menyadarkan mahasiswa saja mungkin kurang, memberi jalan, nasehat dan motivasi adalah sebuah langkah progresive dari sebuah institusi sebesar ATMI.

Secara kasat mata, apa yang harus mahasiswa lakukan ?

Straight to the point, ketika mahasiswa DO karena nilai teori, itu memang tidak ada interest. Itu kebangetan orang Jawa bilang. Dengan seleksi ketat dan test yang tidak gampang, orang bisa lulus menjadi mahasiswa. Dalam artian orang tersebut mampu secara otak nya yang encer untuk berpikir dan memecahkan soal mekanika teknik dan lain sebagai nya. Belajar yang benar, hanya itu resep nya untuk tidak DO teori. Saya tidak punya resep yang lain.
Hal yang perlu diketahui adalah sistem penilaian dan kriteria DO yang ada. Ini untuk lebih mengkonsentrasikan diri ke kelemahan kita. Mungkin kita lemah di masalah angka dan ternyata kalau saya memperoleh C di mata kuliah angka, maka saya akan DO. Maka saya akan konsentrasi untuk mendalami hal angka.
Seperti hal nya di bidang praktek. Adalah sebuah mujijat ketika index prestasi saya 3.00 karena untuk itu nilai praktek harus B dimana jumlah SKS nya sekian percent. Bagaimana saya bisa mendapat B ? apa saja yang dinilai ?
Dalam menghadapi benda kerja, hal yang serupa harus dilihat secara detail dan di aplikasi kan dalam pengerjaan. Semisal untuk memasukkan ukuran ISO, saya butuh waktu over sekitar 2 jam, padahal kalau itu saya abaikan, saya bisa hemat waktu dan akan tidak dikurangi nilai nya karena overtime dan masih ada kemungkinan ukuran ISO tersebut masuk ( by chance ), So, kenapa tidak ? Ini bukan proses penipuan, melainkan tricks. Mungkin tidak sesuai dengan tujuan pengajaran itu sendiri dalam contoh ini adalah memasukkan ukuran ISO. Ini lebih ke will to survive dari pada interest. Silakan disikapi sendiri dan di ambil jalan tengah nya. Yang ingin saya tekan kan adalah pengolahan sumber daya kita masing masing. Banyak hal yang bisa kita kerjakan juga secara kelompok. Tentu ada yang sudah merasa master untuk membubut di sebuah mesin bubut bisa share pengalaman bagaimana tabiat mesin bubut tersebut, bagaimana bentuk ujung pahat bubut nya agar pas masuk ukuran pas juga kehalusan nya.
Ketika saya ujian praktek untuk kelulusan STM, saya membuat kesalahan. Sebuah shaft berdiameter 25mm yang seharusnya di counter bore hanya 12mm sedalam 10mm, saya counter bore diameter 25mm. Hasilnya, shaft patah jadi 2. Saya waktu itu sudah takut bakal tidak lulus ataupun nilai praktek jeblok dan tidak diterima masuk ATMI. Ternyata sebalik nya, karena dari benda kerja itu, hanya nilai fungsi dan counter bore yang salah baca tadi yang nilai nya nol, yang lain masuk ukuran dan perfect.
Setiap semester ganjil, kita dihadapkan dengan nilai nilai kita dan mungkin ada "alert" di situ apakah kalau kita terus terusan seperti itu akan lulus atau DO. Maksimalkan pembacaan nilai yang ada, coba kenali tanda tanda itu untuk perbaikan di semester berikut nya. Jalan belum berakhir.

Terlalu luas dan berbelit belit mungkin keterangan saya, pada akhir nya hanya pemupukan ketertarikan dan kreativitas individu yang berperan penting di sini. Penuhi hari dengan semangat dan kepercayaan yang secukup nya ( jangan berlebihan ). Semua ada jalan nya.
=================================================================
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Diggest Diskusi di Millis

Postoleh geerje » 15 Mar 2011, 18:24

Kepada Romo, Bapak, Mas, Mbak, dan Adik semua,

Tulisan berikut belum sempat saya baca, lgsg saya teruskan, dari orang yg sama.
Mari kita baca dan renungkan bersama.

salam,
dono/28 on behalf Agustinus/28
Don,
iki ide ne mbakyu ku lan hasil ngobrol sesore ro aku, mungkin ada benar nya juga. sori nek ngalor ngidul.

Efek system pendidikan dengan pola reward & punishment.
Secara tidak disadari, pola pendidikan ATMI yang berdasar reward & punishment berdampak pada pembentukan karakter hasil didik nya. Jika ide dasar pendidikan yang mengacu ke aktualitas kondisi lapangan kerja, seindah nya pola pendidikan juga searah dengan hal tersebut.
Ketika seorang mahasiswa dihadapkan dengan kondisi kritis antara DO atau tidak, secara naluri dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa survive. Halal dalam artian yang lain, bukan berarti mencuri dan menipu. Ini menghancurkan karakter dalam kehidupan keseharian nya terutama dalam lapangan pekerjaan nya nanti, dimana dia akan merasa takut untuk membuat kesalahan dan akan cenderung untuk mempertahan kan status quo nya, status kenyamanan dan keamanan nya. Lebih lanjut, akan mengecilkan niat untuk membuat sebuah keputusan.
Sebagai contoh real yang kerap kita jumpai, ketika seorang staff yang selalu memberi carbon copy ke semua orang ketika memberikan informasi maupun instruksi lewat e-mail. Ini bertolak belakang dengan pola pembentukan karakter di negara2 maju dimana lebih diutamakan face to face instruction. Saya belajar bahwa mereka lebih appreciate ketika saya ngobrol dulu dengan mereka sebelum saya memberikan sebuah e-mail ke mereka. Terlihat bahwa person tersebut takut untuk bekerja secara mandiri, lalu mencari teman sebanyak2nya untuk dijadikan backup.
Banyak lagi contoh yang tangible maupun tidak yang berasal dari ketakutan dengan sebuah bentuk punishment atau ketakutan untuk berbuat salah.
Ini mungkin juga merupakan imbas dari beberapa hal yang lebih merupakan adat dan tradisi.
Yang pertama, ketika orang atau atasan mengetahui seseorang berbuat salah, maka dia akan selama nya memberi cap salah atau bahkan memusuhi orang tersebut. Tentu orang akan takut berbuat salah jika mengetahui konsekwensi tersebut.
Yang kedua, pola hidup harmonis dimana orang takut untuk menghadapi situasi chaos. Chaos untuk sebuah kemajuan seharusnya sangatlah dihargai, bukan nya menyembunyikan masalah agar tidak dimarahi atau hanya menuruti kemauan bos meskipun salah. Bukan hanya Indonesia yang punya masalah ini, Jepang pun juga mempunyai tradisi yang sama hingga akhir nya meledak dalam kasus product recall nya Toyota.
Yang lain lain, mungkin lebih ke bentuk lingkungan dan keluarga individu ketika seseorang "terlalu" dekat dengan keluarga nya. Hal ini tidak salah secara emosional, tapi dalam hal profesionalisme seharusnya dibedakan dan ditarik garis pembatas yang jelas.
Kembali ke masalah reward & punishment, apakah ini masih relevant dan perlu untuk diteruskan ? Jawaban akan selalu bervariasi antara ya dan tidak. Secara pribadi, saya mendukung hal itu. System ini terbukti berhasil di Indonesia sejak jaman pendidikan ala kolonialisme belanda. Terutama soal physical punishment yang begitu kental sejak pendidikan dasar dimana muris sering dijewer, disetrap di depan kelas, dijemur sewaktu upacara, etc. Mengapa ? tidak ada jawaban yang pasti. Ada yang ngomong simple karena kita punya bentuk laihiriah berupa tubuh kita yang berhubungan dengan pola pikir kita seperti hal nya kuda dicambuk supaya lari kencang. Ada yang ngomong kalau itu merupakan bentuk produk kolonialisme dimana orang lebih nyaman untuk terjajah ( ??? )
Lalu apa solusi nya ?
Tentu setiap individu mempunyai karakter yang berbeda bedadan resistansi serta penalaran yang lain terhadap system punishment ( saya lebih menekankan punishment nya daripada reward nya ).Dibutuhkan sebuah karakter pribadi yang kuat untuk "menyeimbangkan" pola pendidikan yang ada. Otherwise, orang akan larut ke pola tersebut hingga akhir hayat nya.
Bagaimana sekarang membentuk karakter yang kuat ? Sebagai seorang pekerja, seorang ayah dari 2 anak laki laki dan seorang suami, saya tidak tahu persis bagaimana cara nya.
Yang saya percayai adalah bahwa intelegensi terbentuk sejak proses bertemu nya sperma dan sel telur. Yang membedakan adalah pengalaman seseorang, baik pengalaman fisik maupun batin yang kemudian bersangkut paut dengan pola pikir seseorang. Tapi kembali lagi, bahwa "processor" lebih berperan daripada "operating system" dan segala bentuk "update"
Kalau mau jujur dan berorientasi kepada hasil, proses perekrutan mahasiswa baru akan menjadi "sadis" dimana yang diterima adalah orang orang yang ber karakter kuat ( bukan nerd, geek, scruple, minderan maupun maaf douchebag ). Seleksi hanya berdasar pada tingkat phsyco seseorang, yang tentunya, akan berakibat lebih banyak nya presentasi DO secara akademis.
Adakah hal lain yang bisa dilakukan ? Tentu saja ada. Saya bukan ahli kejiwaan, tapi saya percaya di luar sana ada sebuah system ataupun bisa diciptakan sebuah system penyeimbang untuk diperkenalkan kepada mahasiswa. Bukan system yang melunturkan reward & punishment yang ada.
At least, bisa diberikan informasi kepada mereka agar hati hati dan mencari sendiri penyeimbang. Setidak nya, kalau mereka tahu bahwa di bawah alam sadar mereka terbentuk produk reward & punishment, mereka akan bergerak sendiri.
Apa yang terjadi ketika seorang dengan karakter lemah dihadapkan dengan system yang ada ? banyak sekali bentukan atau macam2 orang yang akan terjadi. Mungkin akan menjadi Yesman atau penganut system ABS. Mungkin akan bekerja tanpa hati dan perasaan seperti layak nya robot atau hal yang paling sederhana seperti yang saya sebutkan di atas.
Sekali lagi kembali ke hal pertama antara system pendidikan dan lapangan kerja. Secara sederhana, saya mempunyai gambaran mengenai adanya serikat pekerja yang mungkin bisa diaplikasikan ke dunia pendidikan ini. Atau mungkin lebih memaksimalkan fungsi senat bukan hanya sebagai wadah kegiatan mahasiswa. Selayak nya senat tidak hanya diisi dengan extra kulikuler, tapi juga ada pembelajaran pendidikan ketenaga kerjaan, pengenalan hak hak pekerja dan yang mungkin lebih penting pengenalan adanya bargaining power dengan pihak management. Jadi akan ada interaksi yang sehat antara mahasiswa sebagai salah satu komponen industri dengan pemilik warung itu sendiri. Sudah saat nya mahasiswa itu dilihat sebagai sebuah asset perusahaan. Tapi perlu adanya sebuah pagar yang jelas kapan bargaining power itu bisa digunakan tentu nya, kalau tidak akan terjadi preseden yang buruk dimana power tersebut digunakan untuk mencampuri urusan dapur pemilik warung.
Satu lagi pertanyaan menggelitik, apakah system DO itu perlu ? jawaban saya perlu dengan sedikit perubahan. Kalau di dunia industri dikenal adanya system warning dan coaching, kenapa di ATMI tidak diterapkan ? Yang harus ditanamkan di benak pemilik warung, ATMI ada bukan untuk membuat orang hidup sengsara alias bukan untuk men DO seseorang, tapi membuat orang lebih baik.
Hal ini lepas dari hal kriminal dimana DO adalah harus, sejajar dengan system hukum negara kita. Meskipun begitu, apakah ATMI juga mempertimbangkan aspek Holistic nya bahwa mengampuni lebih baik daripada menghukum ? Saya kira kalau tidak fatal, system skorsing dengan system kompensasi bisa diterapkan dalam hal tindak kriminalitas ringan. Istilah nya Mahasiwa tersebut nakal, bukan atau belum kurang ajar.
Kalau ada waktu satu tahun dan dipecah menjadi 2 semester, dimana mahasiswa berkesempatan untuk menjadi lebih baik dan lepas dari teror DO, kenapa pemilik warung tidak mem fasilitasi waktu yang ada tersebut ? Mungkin bisa dibuat system warning per setengah semester, diberitahu kepada mahasiswa A misal nya bahwa kalau terus2an seperti ini, dia akan kena DO. Lalu dibikin system man to man coaching agar kalau mahasiswa tersebut masih niat kuliah, ada jalan keluar nya.
Kalau ber alibi bahwa DO itu karena dilihat mahasiswa tersebut tidak berbakat di bidang teknik, lalu pertanyaan mendasar dan telak adalah : bagaimana dulu proses seleksi calon mahasiswa nya ?
Iya kalau yang di DO terima, kalau yudisium ternyata DO, lalu pulang bunuh diri, siapa yang akan menanggung tanggung jawab moral nya ?

Peace.......
====================================================================
Lha mas kalo tidak ada system DO siapa yang akan nanggung biaya pendidikan mahasiswa yang tdk murah?
Kita yang berproduksi akan membuang duit ratusan juta dg sia2 krn mahasiswa tersebut akan mendapat biaya pendidikan yang lebih lho (ingat ATMI kui sekolah tehnik yang paling murah)

Selain itu semangat unt belajar dan berusaha mahasiswa sekarang sangat jauh berkurang dari jaman kita dulu.
Pengalaman saya menjadi staf pengajar di ATMI selama lbh dr 6 th merasakan fighting spirit yang amat sangat berkurang.
Kadang kita sbg pengajar bingung mau mulai mengajar dari mana?
Aku kebetulan mengajar tehnik CNC dan sering ngasih training di luar sangat merasakan bedanya.
Rasa ingin bisa dan mudeng mahasiswa sekarang amat sangat kurang. (Klo tdk bs dibilang manja)
Lha nek ora nganggo sistem DO pasti tambah leda2 bocah2 kui.
(Monggo adik2 yang baru lulus untuk share masalah leda-lede)
Dan yang jelas teman2 yg pernah merasakan DO dari ATMI itu belum tentu tdk berbakat dalam hal tehnik.
Karena ada banyak teman yang DO menjadi orang yang luar biasa dlm hal tehnik dan menjadi interpreneur yg lebih hebat dari lulusan ATMI.
(Orang jang pernah diterima di ATMI pasti mempunyai talenta yg luar biasa tinggal dia sadar atau tidak, cilakane banyak yg sadar setelah DO dan mrk yg bangkit pasti menjadi pribadi yg hebat)
Intinya kalo mau berusaha dan berjuang pasti bisa.
Dan inilah yg kadang dilupakan pada saat mahasiswa kuliah.

Jadi menurut pendapat saya sistem DO msh sangat diperlukan.

Salam Mikael

Sonny Wijaya
ATMI 22
Staf pengajar ATMI
GM PT. ALMIK KURNIA BERSAMA
======================================================================
Mas Sonny,

Saya setuju dg pendapat mas Sonny bahwa sistem DO memang diperlukan.
Hanya saja caranya harus lebih elegan dan obyektif.
Setting omongan saya adalah antara tahun 1995-1998 dimana saya berada di ATMI solo.
Sistem DO di ATMI pada masa itu adalah "dikondisikan" (mudah2an hal ini salah) dimana jumlah siswa dlm masing2 kelas (A,B dan C) dlm 1 angkatan itu sama serta jumlah total mahasiswa dlm satu angakatan itu tidak melebihi kapasitas mesin yg ada utk masing2 tingkat. Hal itu bisa dilihat dr jumlah siswa di angakatan 28, tingkat I =108, tgkt II=96, tgkt III=87, dimana semuanya kl dibagi 3 jumlahnya adalah sama utk masing2 kelas.
Entah benar ataupun tidak kabar burung ttg DO disesuaikan dg jumlah mesin yg tersedia beredar cukup santer saat itu.
Tetapi ada satu kejadian bahwa satu angakatan di bawah saya utk dr tingkat I ke tingkat II jumlah yg DO lebih sedikit...krn ada penambahan mesin pas mereka naik ke tingkat 2 (saya nggak ingat pasti jumlahnya tapi kl dibagi 3...jumlah siswa kelas A,B, dan C..sama!!).
Sistem penilaian di ATMI saya rasa kurang obyektif (terutama tingkat 2 dan 3) karena faktor penilaian utk produksi sangatlah subyektif.
Hari jumat, sehari menjelang yudisium(jauh2 pergi solo-jogja-solo utk mbeleh anjing!!!), saya hari itu tidak masuk (utk habisin jam plus). Tetapi saya sengaja datang ke kampus untuk melihat nilai produksi saya(dikeluarkan hari terakhir menjelang yudisium), waktu melihat nilai yg keluar saya cukup kaget, kl tidak salah saya dpt nilai 4,...padahal seingat saya, produksi saya selama 1 tahun cukup baik dibanding kawan satu kelompok saya dimana ternyata mereka mendapat nilai produksi lebih baik dr saya.
Yo wis, mau diapakan lg wong sudah keluar nilainya, gak ada keberanian maupun sarana utk complaint, wong nilai sudah jd semua tinggal diumumkan, naik atau DO!!
Keesokan harinya waktu menerima yudisium, saya kaget krn nilai ujian praktek saya ternyata cukup tinggi (masuk ketagori A), setelah digabung dg nilai produksi saya yg "jeblok" ternyata masih keluar nilai B(atas).
Jd dlm benak saya bertanya2, apakah nilai produksi saya "sengaja" dibuat demikian agar saya tetap dlm batas nilai praktek B?

Sistem DO dlm sejarah pendidkan saya bukan saja di ATMI, saat SMA kami juga dihantui dg tidak naik serta DO yg jumlahnya tiap tahun cukup significant. Sbg contoh, waktu kenaikan dr kelas 1 ke kelas 2 ada 29 siswa tidak naik dari 240 siswa kemudian dr kelas 2 ke kelas 3 ada 36 siswa tdk naik (serta beberapa DO), tapi aturan tidak naik ataupun DO tidak ada sangkut paut dg jumlah kursi dlm kelas yg tersedia, jd murni dr nilai standard akademis dan pencapaian siswa.

Kemudian seperti yg mas Sonny bilang di bawah bahwa orang yg DO bisa lebih sukses dr yg lulus menurut saya itu karena mental dan spirit yg dibumbui oleh faktor KEPEPET!!
Saat orang dlm kondisi terjepit biasanya akan muncul energy extra serta keberanian untuk mengambil resiko!
Orang2 yg bekerja mulus dlm satu perusahaan (maaf bukan bermaksud menyinggung siapapun) biasanya "kurang" memiliki keberanian untuk mengambil resiko (terutama resiko yg besar...biasane waton slamet).
Saya tidak menyalahkan hal itu, karena mgkn faktor pertimbangan keluarga, pengalaman bekerja di tempat yg baru lg, malas adaptasi dg lingkungan baru, dll (maaf bukan maksut saya mengajarkan utk pindah2 kerjaan).
Lha kl ndilalah mlumpate pas...ya sukseslah si DO itu!!
Saya punya kawan yg saat awal kerjanya terlunta2, mgkn ATMI agak malas ngurusi anak ini karena bandhelnya saat sekolah!
Jadi singkat cerita saat kawan2 yg lain sudah mulai nyaman dg kondisinya di tempat kerja, kawan satu ini masih sibuk bergelut dg kehidupannya yg mgkn naik turun (banyak turunnya..hehehe) secara nggak karuan.
Tetapi seperti saya bilang tadi, bahwa saat kita KEPEPET akan muncul KENEKATAN serta KEBERANIAN dan saat ini kawan saya itu saya lihat cukup suses dlm pekerjaannya.

Jadi kembali lagi...KALAU BISA NAIK KENAPA HARUS Di DO?? dan sebaliknya KALAU HARUSNYA DO, KENAPA (di) NAIK kan??

Itu cerita dg setting 1995-1998....tiap2 masa pasti punya cerita dan tantangan sendiri2, mudah2an saat ini jalan ceritanya sudah berubah.

salam,
dono/ atmi 28
vung tau
=======================================================================
Ms Dono,
Saya yakin, dari tahun ke tahun ATMI selalu membenahi sistem pendidikanya. Apa yg anda utarakan (jml mahasiswa yg DO disesuaikan dgn kapasitas mesin), tidaklah benar. Hanya saja kebetulan jml yg DO, memang segitu.
Klo masalah rejeki&sukses, menurut saya ATMI memang bukan satu2nya jalan utk mencapai sukses. Kepepet jg bukan satu2nya faktor mjd sukses. Wong banyak juga yg gak DO tp lebih sukses dr yg di DO & sukses. he3...

Salam,
Andy - ATMI 33 (2000-2003)
makaryo sbg tukang amplas di salah1 pabrik furniture @solo
===========================================================
Hi,

Maaf ya ikutan nimbrung. Biasanya mah cuma baca email masuk.

Aku pikir DO mah ga usah lah, itu mah zamannya Nazi.(Hitler).Toh masuknya lewat test. Kalau waktu milihnya saja salah, ya jangan muridnya yang kemudian jadi korban. Domino effect nya lumayan.

Kecuali muridnya yang kebangeten. Malas, ga disiplin. Supaya ga jadi racun buat yang lain. Makanya ada Guidance and counseling. Namanya anak kan perlu diarahkan.

Jadi kalau sistem DO masih tetap mau dilakukan, beritahu tuh murid2, sejak dini, waktu orientasi pertama kali masuk. (What, When, why, How, etc...)

Toh ATMI, bukan hanya ngajari cara Ngikir, ngelas etc... tapi kan juga Pola Pikir.

"Learn and practices lead to perfection"

Jadi bukan hanya muridnya, gurunya juga perlu. Everybody..

Salam ATMI
angkatan 76.
==========================================================
Dear teman2 semua,

Yang membuat ciri khas atmi adalah DO nya itu...

Kalo saya sih dari awal sudah tau dan berani ambil resiko jauh2 dari jakarta belajar di solo,(tanpa sanak family).

Setau saya yang DO bukannya ga pinter, tapi banyak faktor, seperti misalnya, karena disuruh orang tua, karena males belajar. Yang intinya memang bukan karena kemauannya sendiri masuk atmi.

Saya dari smu, bener2 nol waktu itu , ga bisa bahasa jawa, ga bisa ngikir, ga bisa bubut,milling dsbnya. Modal saya cuma niat dan keinginan supaya lulus.

Tapi karena memang saya yang pengen sekolah di atmi, yang waktu itu bagi saya suatu mukjijat bisa masuk(karena nilai hasil belajar di smu rasanya ga bakal diterima).
Akhirnya sampai lulus...dengan ipk hampir 3. Karena saya mempunyai komitmen..harus lulus..memang suatu keburuntungan juga mendapatkan teman2 sekelas yang begitu kompak.. Saling bahu membahu.. Kesan individualis sama sekali ga saya rasakan di atmi... Malah saya rasakan guyub bener.

Dibanding poltek lain..atmi lebih guyub loh..

Memangnya siapa yang mau bayar kalo ga di DO ?

Salam,
Albert tantama
Atmi 33

==================================================
Dear teman Alumni ATMI,

Setelah saya baca komentar dari rekan-rekan, pinginnya tertawa sendiri
Masih sangat melekat dalam dalam jiwa sanubari ciri khas bangsa kita yang sering menyikapi suatu pendapat seseorang dengan hati dan kepala yang panas.. mbok yo do sing sareh...he..he.
Masih ingat kejadian waktu yang lalu ketika bangsa kita bersitegang dengan malaysia..rakyat yang panas hati pinginnya Ganyang Malaysia...
Saya rasa DO juga ada baiknya, karena jika kita tidak berbakat di salah satu bidang mendingnya ndak usah diteruskan karena jika dipaksakan hasilnya juga tidak akan efektif dikemudian hari
Tapi kita juga harus menghargai pendapat rekan kita lainnya, toh keputusan semua ini tergantung dari Pimpinan di ATMI yang mungkin lebih memiliki pandangan jauh ke depan.
Kita serahkan semua kepada pemikir dan pimpinan di ATMI, saya rasa semua demi kebaikan ATMI.

Jangan lupa moto kita " Man For Others"

Didik
Angkatan 26
============================================
Kalo ga gini mas.. , mas hendro ga bakalan posting kan...

apa kabar mas hendro..?



Best regards,

Albert Tantama
===============================================
Dear all,

Menarik juga diskusinya, sedikit mencoba memahami cara pandang ATMI dan visi pendidikan awalnya,
Saya masih tetap setuju dengan sistem DO yg diterapkan ATMI, kenapa? Karena proses ini merupakan proses mendidik dan juga menyaring seseorang untuk menemukan minatnya dalam berkarya. Bahasa keren nya find the right person pada bidangnya.
ATMI merupakan lembaga pendidikan yang memberikan pondasi bukan hanya pada pemberikan keahlian teknik tapi bagaimana pada pembentukan karakter seseorang dengan mempertimbangkan minat pada kejuruannya. Dengan kata lain : siapapun yang DO dari ATMI bukan berarti gagal dalam keseluruhan karirnya, mungkin dengan DO, diberikan kesempatan untuk menekuni minat atau keahlian yang lebih cocok pada orang tersebut.
Reward dan punishment tetap merupakan hal yang penting tentu dengan pro dan kontranya. Bisa saja tidak cocok dengan pola pikir si mahasiswa (pada masa itu), tapi saya yakin di kemudian hari kita akan tetap bangga dengan sistem seleksi yang dilakukan. Kualitas karakter menjadi penting. ATMI hanya melakukan filter agar proses itu dapat membantu lebih banyak orang untuk mempunyai kualitas yang sesuai standard industri.
Apakah jaminan? Tentu saja tidak, karena akan kembali berpulang pada para alumninya (terlepas yang DO maupun tidak) pada cara memandang positive proses pendidikan tersebut dan mengaplikasikan pada saat berkarya.
Buktinya apa? Kita masih tetap berdiskusi bukan? Kita masih bisa bercerita tentang bagaimana kita dulu disana dengan segala macam suka dan duka.

Friend, pendidikan apapun hanya membantu memberikan pondasi dan wawasan. Seleksi apapun namanya apakah itu reward dan punishment tetap akan selalu ada.

Yang paling penting adalah bagaimana kita selaku alumni dapat memberikan karya yang terbaik dan menunjukkan inilah kualitas kita. Tanpa itupun ATMI juga akan sia-sia.

DO dari ATMI bukan karena alasan yang dibuat2 pastinya. Lebih pada mengarahkan mahasiswa menemukan "passion"nya. Dan itu bukan akhir segalanya, karena yang masuk ATMI seleksinya sudah baik. Dan kembali pada kita untuk melihat hal tersebut.
Kembali pada cara kita memandang proses.
Sistem apapun pasti ada pro dan kontra, tinggal apakah kita mau membangun bersama dan berbagi untuk sesama.

That's our pride with all consequencies, that's our family.

Salam sejahtera, assalamualaikum Wr Wb.

Aloysius Hariatmoko
ATMI-29
============================================
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Diggest Diskusi di Millis

Postoleh geerje » 15 Mar 2011, 18:25

Salam Mikael,
Menarik banget diskusi dan postingan teman2 semua.
Inilah kita kecroh2an eyel2an ning atine adem.
Lha kita itu bahasane podo walo pake misuh ibarate malah ngangeni, sudah lama aku menantikan hal pisuh2 di milis ini krn mengingatkan kita waktu sekolah dan bareng2 ngakali training nek kancane ono sing keblongan dg pisuhan tp serius kita bantu.

Back to DO adakah ide dr teman2 unt membuat sedikit DO tapi mutu tetap bagus dan mahasiswa bisa bersemangat ?
Bagaimana kah penerapan pengajaran unt mahasiswa agar bisa mengaplikasikan MAN for Other and with Other ?
Serta bagaimana feed back bagi kami yang masih ada di ATMI ?

Matur nuwun feedback nya

Berkah Dalem

Sonny Wijaya 22
NIK 1113
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Diggest Diskusi di Millis

Postoleh geerje » 15 Mar 2011, 18:27

Friend,
Buka topik baru ya....

Saya beberapa kali bertemu dengan beberapa pimpinan perusahaan ada pertanyaan yang cukup menggelitik, kenapa lulusan yang setelah 5-6 tahun terakhir terkesan manja ya?

Mari berdiskusi....
Apa sebabnya? Dan bagaimana kita sebagai alumni mengembalikan image supaya tidak seperti itu responnya... Memang tidak semua tapi itu sudah orang kesekian yang saya temui dan berkomentar...

Monggo brainstorming..
Make it in point.. Jadi lebih gampang saya bantu melistingnya... Siapa tau kita bisa kasih solusi lebih baik.

1. Kenapa hal ini bisa terjadi?
2. Apa kira-kira yang perlu dilakukan agar kualitas alumni tetap punya kelas yang baik dimata user?
3. Faktor apa yang perlu dikembangkan lebih untuk mengatasinya?
4. Lain-lain monggo

Salam
Hariatmoko (angkt 29)
====================================================
Manjanya seperti apa ya pak?
Bisa tolong lebih detail..




Best regards,

Albert Tantama
====================================================
Salam friends,
Salut untuk semua rekan2 , topik yang terangkat sangat bagus dan tanggapan pro kontra sangat beragam, semoga para pendidik dan pimpinan ATMI saat ini juga berespon baik dan bisa sedikit share tentang pendidikan ATMI saat ini, agar para alumni yang geregetan pengen ATMI lebih baik dapat bertukar pikir.

Saya pikir Pendidikan ATMI sampai saya lulus tahun 2000 sudah baik dan relevan, dengan segala sistemnya, Baik DO dan jam minus, dan sebagainya.

Tapi setelah lulus saya baru merasakan (mungkin hanya perasaan) kok betul apa kata pak hariatmoko. kelihatan maaf , manja dan kurang survive. Mungkin maksud saya bila lebih jelasnya belum bekerja sudah minta tempat enak / gaji tinggi , belum membuktikan keahlian atau nilai plus diperusahaan sudah mau lebih. jadi daya juangnya sudah mlempem. Trus saya rasa nilai lulusan ATMI joss ditempat kerja, baik karir dan hasil kerja, mulai memudar, kemungkinan juga jaman sudah berubah dan kompetisi semakin ketat di dunia kerja.

Semoga pimpinan ATMI juga terus meng up to date sistem di ATMI agar juga mengikuti perkembangan dunia industri sekarang ( mentalitas, daya juang , ideal , dan karakter yang baik) sehingga man for and with other semakin kental lagi.

Mungkin saya ikut usul . tukar pendapat :
1. Kenapa hal ini bisa terjadi?
- menurut saya karena ada perkembangan jaman / jaman sudah berubah. (kompetitor banyak , teknologi & informasi maju pesat , kondisi sosial yang merubah kebiasaan / sikap hidup termasuk mahasiswa ATMI)
2. Apa kira-kira yang perlu dilakukan agar kualitas alumni tetap punya kelas yang baik dimata user?
- menurut saya karakter building pribadi mahasiswa perlu sekali ditingkatkan. mungkin dari segi skill teknik sudah bagus, tapi mentalitas dan kepribadian yang baik ( ingat kata as wisnu kepala STM kalo sekarang masih disana ==> attitude sangat kurang) akan membuat kualitas alumni jadi JOSS, sebab saya pikir kepribadian yang dicitakan para pendiri ATMI pada setiap alumni ATMI diluar skill teknik sangat-sangat lah penting di jaman ini.
3. Faktor apa yang perlu dikembangkan lebih untuk mengatasinya?
- menurut saya pembentukan karakter alumni ATMI kembali ke cita-cita awal ATMI man for and with other perlu diperhatikan sungguh.

4. Lain-lain monggo
-

Nuwun

darsono - XXX
======================================
Salam,

Kenapa ya setiap lulusan ATMI selalu merasa paling TOP ?
Kenapa pula mentalitasnya selalu di didik menjadi pekerja ?

jadi begitu lulus "akulah pegawai super ????"
tidak "akulah calon pengusaha/wiraswasta sukses ????"

monggo di comment ....

demi ATMI tercinta


Salam
Paulus Susilo
Angkatan 25
======================================
Salam,

Setuju ama Bos Paulus ......
sekarang dah saatnya ATMI dididik utk menjadi pengusaha,
walaupun saya terus berussaha utk keluar dari pakem pekerja tapi itu sangat berat,
Mungkin ATMI bisa mendirikan beberapa bengkel kecil yg dikelola oleh bebrapa kelompok mahasiswa dan terus dibina agar bisa berdiri sendiri.
Atau membentuk wadah Pengusaha ATMI, tempat berkumpul para pengusaha dan calon pengusaha.

Salam
Yusuf Shidiq - 25
====================================
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang


Kembali ke Diskusi Nasional

Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 1 tamu

cron