Pengumuman
Selamat kepada
rolandoe


RAT KOKAMI, Kamis 1 Juni 2017 jam 09.00 WIB di Sanggar Prativi Jakarta

Rest In Peace Pather Casutt SJ

Diskusi keseluruhan Alumni

Moderator: Moderator

Rest In Peace Pather Casutt SJ

Postoleh geerje » 24 Agt 2012, 19:29

Romo Casutt SJ tercinta telah menghadap Bapa di surga hari ini, Jumat 24 Agustus 2012 jam 18.40 WIB di RS Brayat Minulyo. Rencananya malam ini, disemayamkan di Kantin ATMI dan kemungkinan Senin dimakamkan.info lebih lanjut menyusul.
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Share On

Bagi di Facebook Facebook Bagi di Twitter Twitter

Re: Rest In Peace Pather Casutt SJ

Postoleh wkusuma » 24 Agt 2012, 20:22

selamat jalan ke rumah Bapa, Romo Casutt..
wkusuma
Kikir
Kikir
 
Post: 3
Bergabung: 12 Apr 2010, 02:13

Re: Rest In Peace Pather Casutt SJ

Postoleh geerje » 24 Agt 2012, 21:11

update dari Sdr. Wahyo Nursanto
===========================
Selamat malam rekan-rekan ytc,

Menyambung informasi ttg meninggalnya Romo J. Casutt ytc akan kami informasikan lebih detil sbb:
- Rm Johann Balthasar Casutt SJ meninggal dengan tenang malam ini, 24 Agustus 2012 jam 18.40 di Rs Brayat Minulya Solo
- Jenazah Romo Casutt akan disemayamkan mulai malam ini jam 21.30 di Gedung Serbaguna Mikael Kampus ATMI Karangangasem, Jl Mojo Nr 1 Karangasem Solo, dilanjutkan acara doa dan tuguran.
- Misa Arwah pertama akan dilaksanakan di Kampus ATMI, Sabtu 25 Agustus 2012 jam 11.00 (dipimpin Rm Romo BB Triatmoko SJ & Rm Toni Kurmann SJ – dr Swiss)
- Misa Arwah kedua akan dilaksanakan di Kampus ATMI, Minggu 26 Agustus 2012 jam 11.00 (Rm Agus SJ, Rm Andre SJ dan Komunitas)
- Setelah misa kedua di ATMI, Upacara pemberangkatan dilakukan jam 13.00
- Setelah Upacara, Jenazah Romo Casutt akan langsung diberangkatkan ke Girisonta. Jenazah Rm Casutt akan disemayamkan di Gereja Stanislaus Girisonta, mulai Minggu Malam.
- Misa Requiem di Girisonta Senin 27 Agustus jam 10.00 bersama Provinsialat SJ
- Dimakamkan di Taman Genezareth Girisonta.

Mari kita doakan Rm J. Casutt dan iringi perjalanan beliau ke Surga.

Sugeng tindak Romo J. Casutt SJ tercinta,
Maturnuwun utk teladan dan bimbinganmu.

Salam,
Warga Mikael Solo
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Rest In Peace Pather Casutt SJ

Postoleh geerje » 24 Agt 2012, 21:21

Update dari Sdr Joko Wasono via BBM
================================
JUMAT (24/8) petang ini, Serikat Jesus Provinsi Indonesia kembali kehilangan anggotanya yang sangat fenomenal yakni Romo J. Casutt SJ. Imam Yesuit berdarah Swiss ini boleh dibilang merupakan Yesuit ‘fenomenal’ karena dari tangannyalah lembaga pendidikan tekni Kolese Mikael dan ATMI Solo lahir.

Bersama koleganya Romo Almering SJ, ATMI Solo dan Kolese Mikael berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi khusus teknik. Dari tangan dingin kedua pastur Yesuit inilah, lahir banyak tenaga-tenaga tekni andal di banyak perusahaan besar di Indonesia.

Romo J. Casutt SJ meninggal dunia, Jumat petang ini pukul 18.40 di RS Brayat Minulyo, Solo, Jawa Tengah.

Malam ini, jenazah mendiang Romo Casutt SJ akan disemayamkan di ATMI Solo sampai Minggu (26/8) sore untuk kemudian dibawa ke Gereja Stanislaus Girisonta, Karangjati, Ungaran.

Misa requiem untuk Romo J. Casutt SJ akan diadakan di Gereja Paroki Girisonta, Senin, pukul 10.00 WIB dan selanjutnya jenazah akan dimakamkan di Kompeks Pemakaman Para Yesuit di Kerkop Emmaus Girisonta.
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Foto foto terakhir

Postoleh geerje » 24 Agt 2012, 21:58

Foto Foto Terakhir

Gambar
Foto bersama Romo Moko saat peluncuran buku biografi Romo Casutt Ab Initio Ad Esse




Foto foto perayaan ulang Tahun Romo Casutt ke 86 yakni 24 Januari 2012

Gambar
Foto saat saya bertemu Romo Casutt di ATMI saat Job's fair April 2012
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Rest In Peace Pather Casutt SJ

Postoleh geerje » 25 Agt 2012, 23:43

J.B. Casutt, SJ.

Lahir di Horgen, Swiss pada 24 Januari 1926
Pada 15 Agustus 1953 ditahbiskan sebagai Imam Jesuit
Tiba di Indonesia pada 27 Pebruari 1957

1957-1965 berkarya di Seminari Menengah Mertoyudan
1962 Mengajukan diri menjadi WNI
1965-1971 Pimpinan Asrama Realino Yogyakarta
1971-2000 Pimpinan ATMI-STM Michael Surakarta
2000-2005 Memimpin Pembangunan ATMI Cikarang
2009 Best Practice Award for Production Youth Development
Sebuah penghargaan dari Jacob Foundation Switzerland
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Allah menarik garis lurus dari pengalamanku...

Postoleh geerje » 27 Agt 2012, 23:11

J. Casutt, SJ

“Allah menarik garis lurus dari pengalamanku yang berbelok-belok”
.

Ungkapan yang cukup terkenal dari Pedro Arrupe tersebut, dapat kita dalami lewat kehidupan J. Casutt, seorang Jesuit Swiss yang menjadi Warga Negara Indonesia. Mengingat Romo Casutt, demikian beliau dipanggil oleh para karyawan dan koleganya, sama dengan mengingat ATMI. J. Casutt dilahirkan di Horgen, Switzerland pada tanggal 24 Januari 1926. Ia anak keempat dari lima bersaudara. Sejak kecil beliau sudah ingin menjadi pastor. Pendidikan dasar diselesaikan di Horgen, Zurich, Swiss sampai kelas enam, kemudian pindah ke Gymnasium (semacam sekolah berasrama) di desa Engelberg yang dikelola para Benediktin selama delapan tahun. Tahun 1945, Casutt menyelesaikan pendidikan di Kolese, kemudian ia segera masuk Seminari Tinggi Diosesan di Chur dan belajar filsafat dan teologi selama 2 tahun. Sampai saat itu Casutt tidak pernah punya keinginan pergi ke Indonesia, tidak bersentuhan dengan dunia teknik, bahkan belum mengenal Serikat Jesus.

“Saya merasa terpanggil untuk masuk ordo Jesuit dan berkarya di tanah misi. Tentu saja orang tua tidak begitu senang dengan pilihan saya, toh (mereka) tidak menghambat,” ujarnya.

Casutt menjadi Jesuit dalam Misi yang dikelola German dan Swiss. Misi tersebut mengirimkan pelayan ke Poona, India. Di sinilah awal mula perkenalan Casutt dengan Serikat Jesus. Sekali lagi, hal ini adalah suatu keajaiban. Dengan kepercayaan dan iman, Casutt telah memilih Ordo yang belum dikenalnya. Semua itu digerakkan oleh Latihan Rohani yang dijalaninya.

Casutt menjalani masa Novisiat selama 2 tahun di Rue, Freibourg. Setelah itu, tahun 1949, Casutt diutus belajar filsafat di Inggris selama tiga tahun. Di tempat itu pula, Casutt mendapat tugas untuk misi ke India. Tetapi, Penyelenggaraan Ilahi mengatakan lain. Casutt tidak dapat berangkat ke India karena pada waktu itu, India, untuk pertama kali, menolak visa. Penundaan itu membuat Casutt diutus studi Teologi di Eegenhoven, Belgia. Di sana, sewaktu-waktu Casutt akan dipanggil untuk misi ke India. Casutt ditahbiskan pad atanggal 15 Agustus 1955. Pada waktu itu, orang tua dan saudaranya datang ke Belgia untuk pesta tersebut. Hari sesudahnya, Casutt pergi ke Swiss untuk merayakan misa pertama di Paroki Horgen. Pesta di Paroki ini cukup besar sehingga seluruh Paroki membantu persiapan perayaan. Di sini juga terdapat cerita menarik.

Sebelum pesta, pada hari Sabtu, Casutt menyempatkan diri makan di rumah orang tua. Pada saat itu muncul Pastor paroki dan meminta untuk ikut ke Pasturan. Ternyata Polisi telah datang, dan melarangnya mengadakan misa perdana. Casutt menemui Polisi itu dengan pakaian sipil. Polisi melarang karena Casutt adalah seorang Jesuit. Pada waktu itu, Jesuit dilarang bekerja di Paroki dan di Sekolah di Swiss. Mereka tidak mengetahui bahwa Misa Perdana tidak ada hubungannya dengan status legal fungsional untuk bekerja. Casutt berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Bila pesta dibatalkan, seluruh paroki akan kecewa. Akhirnya Polisi itu kembali ke Zurich dan memberi janji akan memberi jawaban lewat telepon. Pada jam 8 malam, Polisi memberi ijin. Perta perayaan dapat dilangsungkan dengan beberapa Polisi dalam pakaian sipil. Pada hari Senin berikutnya, misa itu dipermasalahkan oleh sebuah koran terbitan Zurich yang berbahasa Perancis. Mereka mempersoalkan bahwa seorang Jesuit diijinkan misa di Swiss. Terjadi Polemik di surat kabar sehingga mempengaruhi juga diskusi di Parlemen mengingat Jesuit masih dilarang berkarya di Swiss.

Setelah Tahbisan, Casutt menjalani pelayanan di Rumah Sakit di Basel. Kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa misi ke India tidak memungkinkan, tetapi Indonesia membutuhkan tenaga. Casutt menjawab dengan siap. Segera Casutt pergi ke Nederland, diantar Pater Willenborg untuk bertemu dengan Supervisor misi Indonesia. Dalam perjalanan ke Indonesia, Casutt singgah selama 2 minggu di India, di daerah Puna yang sedang mengalami masa kemarau. Situasi India dan Indonesia waktu itu sangat lain. Saat India musim kering dan berdebu, Indonesia sedang musim hujan sehingga semua hijau. Situasi ini dialami Casutt sebagai suatu hal yang sangat berbeda.

“Semua kering, tidak ada yang hijau dan dimana-mana ada debu. Saya ingat ketika kapal terbang melayang di atas Jakarta, saya merasa lega karena di mana-mana hijau.”

Untuk beberapa hari dia tinggal di Kolese Kanisius dan meneruskan perjalanan ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia, lalu pindah ke Mertoyudan, Magelang, dan tinggal selama delapan tahun. Pada 1962, Casutt mulai mengurus izin sebagai WNI tetapi terkatung-katung cukup lama. Casutt memutuskan untuk menjadi WNI karena ingin benar-benar menyesuaikan hidup dengan tanah pilihannya. Sekitar 1965 dia pindah lagi di Asrama Mahasiswa Realino di Yogyakarta. Hingga pada tahun 1971 dia harus meninggalkan Realino dan mengambil alih pimpinan STM dan ATMI St. Mikael dari Romo Chetelat.

Tahun 1971, Casutt ditawari oleh Romo Provinsial, saat itu Pater Sunaryo untuk menjadi Pemimpin sekolah di Solo, ATMI. Casutt menduga Pater Sunaryo sudah mengenalnya saat dia bekerja sebagai Minister dan Ekonom di Seminari Mertoyudan. Pemimpin ATMI sebelumnya yakni Pater Chetelat dan Pater Ammann telah meninggalkan Serikat. Mau tidak mau, Casutt menerima tugas tersebut. Casutt menerima tugas tersebut dengan sekuat tenaga walaupun tidak mengetahui bagaimana sekolah tersebut berjalan dan tidak dapat mengoperasikan mesin. Yang pertama dilakukan oleh Casutt adalah mengatur rumah yang waktu itu tidak teratur. Setalh itu, ia menegakkan disiplin dalam bengkel dan sekolah. Penegakan disiplin itu dilakukan dengan memulai segala sesuatu pada waktunya.

“Terus terang saya merasa berat tanggung jawab yang harus dipikul. Karena saya tiak disiapkan untuk itu. Tanggung jawab besar, karena sekolah itu disiapkan dengan cukup banyak uang.”


Ia berangkat dengan semangat besar. Ingin menggunakan kurikulum Swiss di sekolah yang baru. Karena tidak ada model sekolah yang hanya khusus teori dan tidak ada perusahaan yang hanya menyediakan praktek untuk mahasiswa, Casutt merancang sekolah yang menyatukan Teori dan Praktek. Di luar dugaan, ternyata Casutt tidak memiliki latar belakang pendidikan Teknik. Persentuhannya dengan dunia teknis sebatas “otak atik” yang pernah dilakukannya saat masih kecil di bengkel milik ayahnya, lain tidak. Oleh karena itu, ia belajar secara khusus dari Instruktur setelah jam kuliah mahasiswa. Diskusi yang dilakukan dengan Instruktur dari Swiss, Mr. Frick, memberi banyak pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan kejuruan dan mesin. Selanjutnya, Casutt memimpin ATMI selama 29 tahun.

“Dari 75 mahasiswa kami mengembangkannya sampai lebih dari 300 mahasiswa. Dari sekolah yang defisit hingga menjadi sekolah yang madiri dan untung”
, katanya.

Dengan banyak pertimbangan, dia juga mengkader generasi Instruktur dari daerah asli. Oleh karena itu, dia mengirim beberapa siswa berprestasi di ATMI untuk sekolah ke Eropa. Sekmbalinya mereka dari Eropa, Mr. Frick dilepaskan. Casutt telah meletakkan dasar kemandirian bagi lembaga pendidikan yang dia kembangkan. Berkaca dari pengalaman dan dari hal yang sudah dilakukan, Casutt berpendapat bahwa di dalam serikatpun, anggota perlu diberi ketrampilan dan pelatihan agar sanggup masuk ke dalam suatu jabatan baru.


sumber : buku panduan Misa Requiem untuk Romo Casutt SJ.
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Solopos - Mengenang Romo Casutt

Postoleh geerje » 27 Agt 2012, 23:14

MENGENANG ROMO CASUTT: Menjual Sendiri Karya Para Siswanya
Sabtu, 25/8/2012 19:04

Romo Casutt (JIBI/SOLOPOS/dok)
Dunia pendidikan, khususnya pendidikan teknik, ditinggalkan Romo Johann Balthazar Casutt SJ, yang meninggal dunia dalam usia 86 tahun, Jumat (24/8/2012). Sang Romo dikenal sebagai mantan pimpinan serta salah satu pengembang SMK St Mikael dan Akademi Teknik Mesin Industri(ATMI) di Karangasem, Solo.

Perjalanan hidup biarawan Ordo Jesuit ini sangat menarik untuk dilihat. Laki-laki kelahiran Horgen, Swiss, 24 Januari 1926 ini menamatkan pendidikan dasarnya diselesaikan di Horgen, Zurich, Swiss, hingga kelas enam, lalu pindah ke sekolah asrama di desa turis Engelberg yang dikelola Ordo Benediktin.

Selama delapan tahun Casutt belajar di situ hingga lulus dari Gymnasium dan pindah ke Chur pada1945 untuk belajar filsafat dan teologi. Tahun kedua dia ikut retret agung dari Ignatius Loyola. “Saya merasa terpanggil untuk masuk ordo Jesuit dan berkarya di tanah misi. Tentu saja orang tua tidak begitu senang dengan pilihan saya, toh [mereka] tidak menghambat,” ujarnya.

Masa novisiat (suatu proses menjadi rohaniwan Jesuit) dijalaninya di Rue, Fribourg, selama dua tahun. Sekitar 1949 dia dikirim ke Inggris untuk belajar filsafat selama tiga tahun. Sesudah itu Casutt harus ke India namun visanya ditolak. Dia kemudian belajar teologi di Eegenhoven, Belgia.

Pada akhir 1955, Casutt ditahbiskan menjadi imam dan dikirim untuk tahap pendidikan terakhir ke Muenster, Westphalia, Jerman. Di situ dia menerima surat dari provinsial (pimpinan biara) yang menawarkan Indonesia sebagai tempat kerja. Dua tahun kemudian dia berangkat ke Indonesia. Dalam perjalanan menuju Indonesia dia sempat mengunjungi India selama 14 hari, ke daerah Pune yang saat itu mengalami musim kemarau.

“Semua kering, tidak ada yang hijau dan di mana-mana ada debu. Saya ingat ketika kapal terbang melayang di atas Jakarta, saya merasa lega karena di mana-mana hijau,” ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan Bisnis.com. Untuk beberapa hari dia tinggal di Kolese Kanisius dan meneruskan perjalanan ke Jogja untuk belajar bahasa Indonesia, lalu pindah ke Mertoyudan, Magelang, dan tinggal selama delapan tahun.

Pada 1962, Casutt mulai mengurus izin sebagai WNI tetapi terkatung-katung cukup lama. Sekitar 1965 dia pindah lagi ke Asrama Mahasiswa Realino di Jogja. Hingga pada 1971 dia harus meninggalkan dunia mahasiwa dan mengambil alih pimpinan STM dan ATMI St Mikael dari Romo Chetelat. “Terus terang saya merasa berat tanggung jawab yang harus dipikul. Karena saya tidak disiapkan untuk itu. Tanggung jawab besar, karena sekolah itu disiapkan dengan cukup banyak uang,” tuturnya.

Selama 29 tahun dia memimpin sekolah itu. “Dari 75 mahasiwa kami mengembangkannya sampai lebih dari 300 mahasiswa. Dari sekolah yang defisit hingga menjadi sekolah yang mandiri dan untung,” katanya. Casutt, yang senantiasa meyakini kemampuan murid-muridnya, pernah langsung turun tangan memasarkan hasil karya siswa ATMI dengan menumpang mobil bak terbuka ke daerah Glodok, Jakarta.

Akhir 2000, dia menyerahkan pimpinan ATMI kepada Romo Triatmoko. Tampaknya dia memang tak punya pilihan karena kondisi kesehatannya menurun. Sejak akhir 2004 dirinya terkena stroke. “Menurut saya ini suatu tanda bahwa saya harus berhenti dan meninggalkan sekolah ini kepada orang yang lebih muda,” katanya.

sumber :http://www.solopos.com/2012/pendidikan/mengenang-romo-casutt-menjual-sendiri-karya-para-siswanya-321917
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re : Solopos - Mengenang Romo Casutt

Postoleh geerje » 27 Agt 2012, 23:15

MENGENANG ROMO CASUTT: Pendidikan Teknik Jangan Hanya Berorientasi Sekolah!
Sabtu, 25/8/2012 23:15

Romo Casutt Sj (JIBI/SOLOPOS/dok)
Meski bukan termasuk pendiri Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo, namun nama mendiang Romo Johann Balthazar Casutt SJ atau lebih dikenal sebagai Romo Casutt sangat dikenal sebagai salah satu pengembang pendidikan kejuruan teknik. Di bawah kepemimpinannya, ATMI juga berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan kejuruan teknik yang menghasilkan lulusan berkualitas tinggi dan siap kerja. Bagaimana kisahnya mengenai upaya pengembangan yang dilakukannya bersama ATMI? Berikut penuturannya dalam sebuah wawancara dengan Bisnis.com beberapa waktu lalu.

Sebagai pionir pendidikan siap kerja apakah ATMI pernah diminta pemerintah untuk membangun pendidikan sejenis?

Tentu saja. Dimulai 1970, Mendikbud [saat itu Mashuri] melakukan kunjungan mendadak lalu dia memanggil duta besar Swiss dan meminta agar didirikan sekolah sejenis ATMI. Berulang kali utusan ITB mengunjungi kami. Hasilnya pada 1975 berdiri PMS di Bandung yang berdiri dengan dana yang jauh lebih besar. PMS lalu menjadi politeknik yang diterapkan di berbagai universitas.

Sekitar 1995 bersama STM St. Mikael, ATMI diminta untuk meningkatkan 5 STM [Sekolah Teknik Menengah] di Jateng yang sebelumnya cenderung menerapkan Competency Level dari Australia a.l. STM 1 dan 2 di Solo, STM Negeri Pati, STM Pembangunan Semarang dan STM Negeri Magelang. Satu politeknik yang berdiri dengan bimbingan ATMI adalah Politeknik Caltex, dan tiga pusat pelatihan milik PT Astra, PT Krakatau, dan PT United Can dan ADR Group.

Selain itu kami menerbitkan sertifikat bagi lulusan STM yang diakui oleh industri. Tetapi setiap kali tes tidak separuh dari peserta yang lulus tes sertifikasi.

Kalau sistem ATMI sudah menjadi dasar di banyak politeknik, mengapa tak banyak politeknik mampu mencapai keberhasilan seperti ATMI. Apa yang menjadi kendala?

Sejak 1973 kami menerapkan dual system yang diterapkan Jerman dan Swiss. Sistem in yaitu pendidikan praktik dan teori dijadikan satu dengan orientasi production-based training. Jadi produk yang dihasilkan oleh siswa dilempar ke pasar.

Di satu sisi siswa belajar untuk bekerja menghasilkan sesuatu sesuai kebutuhan pasar di sisi lain barang produksi tersebut menghasilkan keuntungan finansial untuk mensubsidi jalannya pendidikan di sini.

Apakah dengan ini bisa dikatakan pendidikan ala ATMI membutuhkan biaya yang mahal?

Oh ya tentu saja. Pendidikan siap kerja bidang teknik ongkosnya mahal kalau menerapkan pendidikan model ATMI. Karena itu production-based training harus diterapkan. Sampai saat ini sekolah teknik atau politeknik hanya berorientasi sekolah. Mesin banyak menganggur dan tidak memikirkan produk jadi yang bisa dijual untuk membiayai operasional.

Dengan demikian kami dapat bertahan tanpa membebankan mahasiswa dengan uang kuliah yang tinggi. Sebab tidak mungkin seluruh biaya operasional dari dari siswa.

Berapa omzet produksi ATMI dalam setahun?

[Sambil tertawa] Yah, baik-baik saja sampai kini masih cukup untuk menjalankan ATMI.

(Bisnis.com mencatat 10 tahun lalu ATMI memiliki omzet produksi Rp3,5 miliar. Omzet itu kini sudah berlipat ganda karena permintaan tenaga lulusannya dari pasar dalam dan luar negeri terus berdatangan. Pemesannya di dalam negeri a.l. Pindad, Polytron, PT Inka, Pertamina, Coca-Cola, Daihatsu, German Motor, hingga Astra-Federal.)

Bagaimana prediksi pendidikan siap kerja tingkat diploma di Indonesia?

Tentu saja sangat diperlukan. Mengingat pembangunan di Indonesia sejak akhir 1960-an mulai dipacu ke arah industri dan meninggalkan pertanian. Sarjana lulusan perguruan tinggi banyak dan tenaga unskilled berlimpah.

Diperlukan tenaga pengisi di tengah-tengah kondisi itu. Hanya saya tidak mengerti mengapa pendidikan siap kerja ini kemudian sempat ditinggalkan oleh dunia pendidikan. Selain itu, seperti ada gejala bahwa ijazah di atas segala-galanya. Saya bisa mengerti mengapa Pater J Drost atau Romo Mangun berulang kali gusar dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Sayang mereka tidak pernah didengarkan.

Apakah tidak ada niat untuk meningkatkan ATMI menjadi sebuah universitas?

Untuk apa? Tujuan pendirian kami sejak awal mencetak tenaga ahli. Toh jika lulusan [ATMI] ingin meraih gelar sarjana, beberapa universitas seperti UGM atau ITB siap menampung. Kami pernah punya pengalaman unik dalam hal ini. Di antaranya tentang akreditasi oleh Kopertis [yang begitu sulit] hingga dilarangnya kerja sama perkuliahan antara ATMI dan UGM.

sumber : http://www.solopos.com/2012/pendidikan/ ... lah-321933
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Re: Solopos - Mengenang Romo Casutt

Postoleh geerje » 27 Agt 2012, 23:16

MENGENANG ROMO CASUTT: Utamakan Praktik, Hasilkan Lulusan Berkualitas Tinggi Siap Kerja
Sabtu, 25/8/2012 21:02

Para mahasiswa ATMI tengah berpraktik menggerinda di bengkel akademi tersebut di Colomadu, Karanganyar. Penekanan pada praktik yang diterapkan oleh pendidikan kejuruan ini membuat lulusan ATMI selama ini mengemban citra sebagai tenaga siap kerja berkualitas tinggi. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia jumlahnya cukup berlimpah. Namun, sangat sedikit yang menyiapkan mahasiswanya dengan keahlian yang diterima oleh pasar tenaga kerja. Pendidikan di Indonesia mengalami penurunan fungsi menjadi sekedar mesin cetak ijazah dengan kualitas lulusan yang tidak siap kerja. Akibatnya jumlah pengangguran terdidik makin menumpuk.

Mendiang Romo Johann Balthazar Casutt SJ, mantan pimpinan dan salah satu perintis pengembangan SMK St Mikael dan ATMI Solo, turut berperan dalam pengembangan pendidikan vokasi atau kejuruan di Indonesia. Romo kelahiran Swiss yang meninggal dunia Jumat (24/8/2012) lalu itu beberapa waktu lalu pernah dijumpai Bisnis.com dan menguraikan rahasia untuk mencetak lulusan sekolah kejuruan yang berkualitas tinggi. Berikut petikan wawancara dengannya.

Sejak didirikan 37 tahun lalu ATMI mampu bertahan sebagai panutan pendidikan teknik yang paling siap kerja di Asia. Apa yang menjadikan ATMI mampu bertahan?

Ada tiga hal, antara lain menjaga kualitas sumber daya manusia yaitu instruktur dan siswa, peremajaan mesin yang mengikuti perkembangan jaman, menjaga mutu produk dihasilkan yaitu lulusan dan barang produksi yang dipesan pasar.

Sebetulnya seperti apa model pendidikan siap kerja apa yang telah berhasil diterapkan?

Praktik di sini menempati porsi terbesar. Komposisinya 2/3 di bengkel dan 1/3 di kelas atau 40 jam di bengkel dan empat jam teori. Tanpa praktik maka pendidikan siap kerja tak akan pernah terwujud. ATMI tetap bertahan untuk mempertahankan sistem paket. Selama tiga tahun diperlukan 5.510 jam tatap muka, jauh lebih banyak dibandingkan dengan sistem kredit semester tingkat Diploma 3.

Sistem gugur tingkat yang sudah ditinggalkan di tempat lain juga tetap dipertahankan. Siswa harus keluar jika tidak mampu memenuhi standar nilai yang ditentukan. Kedisiplinan dan etos kerja ditanamkan. Jika siswa terlambat maka mereka harus menggantikan jam keterlambatan itu. Mengambil satu baut saja maka siswa itu akan dikeluarkan.

Lulusan ATMI harus memenuhi tiga hal yaitu competensia [berdisiplin tinggi, teliti, dan konsisten pada mutu], conscientia [memiliki tanggung jawab moral], dan compassio [memiliki kepedulian pada orang kecil dan cinta kasih].

Ada pameo, selama tingkat satu siswa ATMI dilarang sakit. Jika ada pasti akan gugur di tengah jalan. Apakah memang disengaja?

Untuk tingkat satu, mereka harus melakukan kerja bangku 40 jam selama lima hari kerja atau seharinya delapan jam. Pekerjaan yang dilakukan sederhana, misalnya membuat baut dengan alat manual seperti kikir dan tanggem dengan ketelitian hingga 1/100 milimeter. Bagi lulusan SMU cukup berat. Sebab selama kerja bangku itu siswa harus terus berdiri. Tetapi sistem ini membuat lulusan ATMI siap bersaing di pasar kerja.

Bagaimana tenaga instruktur?

Gelar tidak perlu. Instruktur yang dipakai ATMI selain pintar juga terampil. Pada 1969 instruktur kami masih dari Swiss, di antaranya Mr W Frick, Mr Ruegg dan Mr Vetterli. Sejak 1970 selalu ada instruktur yang dikirim ke sekolah teknik di Jerman atau di Swiss a.l. Solingan, Jerman atau ke Ingenierschule St. Gallen [sekarang Fachhochschule] atau magang di perusahaan di sana.

Instruktur harus selalu mengikuti kemajuan industri permesinan. Kadang kami menolak untuk mengirim instruktur yang diundang Jerman sebab paket pendidikan yang ditawarkan di bawah standar ATMI.

Bagaimana dengan mesin untuk praktik?

Tentu terus diperbaharui. Sejak akhir 1980-an ATMI menjadi satu-satunya sekolah yang memiliki mesin Computer Numerical Control [CNC]/EDM/Wire Cut, guna membuat beragam barang, CAD/CAM [Computer Aided Design/Computer Aided Machine] yang canggih. Memang mahal tapi itu harus dilakukan untuk mengejar kemajuan teknik.

Saat ini komputer membuat pekerjaan menjadikan lebih mudah. Tapi kerja bangku tidak akan pernah dihapuskan. Sebab kerja bangku mengajarkan kedisiplinan, sikap percaya diri dan teliti.

sumber : http://www.solopos.com/2012/pendidikan/ ... rja-321923
geerje
Site Admin
 
Post: 200
Bergabung: 21 Feb 2010, 17:11
Lokasi: Tangerang

Berikutnya

Kembali ke Diskusi Nasional

Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 1 tamu

cron